Pilih Bahasa

Ooo....I Dilarang parkir

Entah sadar atau tidak namun hal ini sering kita jumpai. Jangan di contoh dan Patuhilah Peraturan Laluintas

Tips Mengemudi Mobil

Mengemudi Mobil
Berikut tips mengemudikan mobil :
  1. Lakukan pemeriksaan awal kendaraan sebelum melakukan engine start meliputi pengecekan lampu indikator, kondisi bodi, tekanan angin ban, pemeriksaan bagian bawah untuk mengecek kebocoran oli, termasuk minyak rem.
  2. Berat beban di mobil juga dapat mempengaruhi konsumsi bahan bakar. Untuk itu ada baiknya keluarkan barang yang tidak diperlukan dari dalam mobil. Jika di mobil terdapat roof rack dan tidak sedang digunakan sebaiknya dilepas. Namun, jika Anda menggunakannya untuk membawa barang sebaiknya berkendara dengan kecepatan rendah agar untuk menghindari barang bawaan terjatuh.
  3. Pastikan menggunakan sabuk pengaman (safety belt) dan jangan lupa mengencangkannya. Karena dapat melindungi si pengguna dari cedera lebih berat saat terjadi kecelakaan. Cara memakai safety belt dengan benar yaitu silangkan safety belt dari tulang bahu ke pinggul sebab kedua tulang tersebut paling kokoh di tubuh manusia.
  4. Sesuaikan posisi spion dalam dan samping sehingga pengemudi dapat melihat semua sudut secara optimal. Pasalnya, setiap mobil pasti memiliki blind spot area (area yang tidak terlihat pengemudi), sebaiknya lakukan head check atau menengokkan kepala sesaat sebelum pindah jalur atau berputar.
  5. Untuk poin yang kelima ini menyangkut penguasaan setir. Posisi yang ideal memegang setir, posisikan kedua tangan berada di posisi jam 3 dan 9 karena aman, jika terjadi kecelakaanairbags (kantong udara) akan mengembang diantara kedua tangan. Selain itu, dapat menyalakan tuas lampu belok maupun wiper dengan jari bukan dengan tangan.
  6. Hilangkan kebiasaan buruk saat mengemudi seperti merokok, menerima panggilan telepon, makan, minum atau bahkan mengobrol. Karena bila dilakukan dapat mengganggu konsentrasi mengemudi. Tapi, jika ingin melakukan hal tersebut, pengemudi sebaiknya berhenti sejenak di tempat aman atau memastikan telepon selular Anda terhubung dengan hands-free.
  7. Saat mengemudi dianjurkan untuk menjaga jarak aman. Pengemudi defensive selalu menyediakan ruang antara mobil di depan, samping dan belakang. Dalam hal ini, jangan mengikuti terlalu dekat sebab kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi kemudian. Semakin banyak ruang semakin banyak waktu tersedia untuk bereaksi. Menjaga Jarak aman antara kendaraan saat beriringan adalah 3 detik.
  8. Teknik pengoperasian gigi transmisi. Walau mobil Anda sudah menerapkan teknologi yang ramah bahan bakar ternyata tidak menjamin jika karakter berkendara kebanyakan pengemudi masih buruk. Mesin dengan bahan bakar bensin rata-rata bekerja optimal di putaran 2.000 - 2.500 rpm. Oleh karena itu, saat melakukan perpindahan gigi sebaiknya lakukan pada jarak rpm 2.000 sampai 2.500 rpm.
  9. Lalu, terkait efisiensi bahan bakar. Ada baiknya memperhatikan momentum kendaraan. Misalnya, ketika akan mendekati perempatan atau pertigaan lampu lalu lintas, sebaiknya angkat kaki dari pedal gas lebih awal dan biarkan mobil meluncur sebelum menginjak pedal rem. Hal ini diklaim mampu menghemat konsumsi bahan bakar mobil Anda.
  10. Terakhir, matikan mesin mobil jika berhenti dan terdiam selama lebih dari 20 detik (tapi syaratnya mesin mobil harus dalam kondisi mudah start). Sebab, mesin yang hidup dalam kondisi diam yang lama misal 3 menit sama halnya dengan Anda melakukan perjalanan sejauh 1 km pada kecepatan konstan 50 km/jam.

Tips Berkendara Ketika Mudik Lebaran

Berikut tips saat berkendaraan menuju kampung halaman Anda :

  1. Sebelum melakukan ritual mudik seharus cek kondisi kendaraan, mulai dari oli mesin, oli perseneling, oli gardan (jika ada), dan sebagainya.
  2. Cek kondisi ban dan tekanan angin. 
  3. Jangan menggunakan nitrogen karena dicampur angin biasa. Dan itu mengakibatkan tekanan angin bertambah.

Spot Mancing Favorit di Indonesia

Bagi yang punya hobby mancing atau para mancing mania, coba pilih salah satu spot pancing berikut:

Pelabuhan Ratu, Jawa Barat, pantai Malimping dan Ujung Kulon. Tempat memancing dengan infrastruktur memancing terbaik di Indonesia, di Malimping dan Binuangeun, kabupaten Lebak Banten tersedia kapal memancing dilengkapi GPS dan Fish finder dengan ABK terbaik dan berpengalaman.

Laut sekitar pulau Karimunjawa hingga pulau di sekitar Madura, Jawa Timur. Aneka jenis ikan tenggiri, kakap, giant travelly dan tuna bisa anda buru disini. Infrastruktur wisata belum tersedia

Perairan kepulauan Mentawai, Siberut Sumatera Barat. Terutama di sekitar karang sibora. Infrastruktur memancing belum tersedia, namun bagi anda yang ingin memancing dapat menyewa kapal tradisional milik nelayan sekitar.

Pulau Weh Sabang, Aceh. Terutama di sekitar gugusan karang pulau Silaku, infrastruktur wisata belum memadai di pulau weh ini.

Laut Banda, Laut Aru, Laut seputar pulau Kei, Maluku. Kedalaman yang mencapai 5000 meter ombak yang juga besar dan angin yang pasti selalu berubah .Infrastrukturnya untuk wisata sangat memadai, namun untuk memancing belum tersedia. Biasa nelayan menyewakan kapal tradisionalnya, terdapat banyak zona drop off yang menjadi sarang ikan besar .

Laut Pulau Biak, Papua Barat. Kedalaman laut >1000 meter. Ombak tenang, dengan angin sering berubah. Sangat cocok untuk memancing dengan teknik popping, jigging dan trolling. Tersedia infrastruktur wisata memancing, sejumlah resort menyewakan kapal.

Laut Fakfak, Kanka hingga Kaimana, Papua Barat. Kedalaman laut lebih dari 1000 meter dengan angin yang sering berubah. Tempat terbaik untuk memancing tuna. Dengan berat 90 kg, waktu terbaik untuk memancing adalah bulan Nopember. Tersedia infrastruktur wisata memancing sejumlah resort yang menyewakan kapal dengan ABK berpengalaman.

Sumber: gayahidup.inilah.com


Arsitektur Pada Masa Kejayaan Zaman Kolonial di Kota Padang


Judul asli dari Artikel ini adalah "Menengok Kejayaan Zaman Kolonial di Kota Padang" artikel yang bersumber dari TEMPO.CO, yang menulis tentang beberapa Arsitektur bangunan peninggalan kolonial di ranah minang dan juga sedikit banyak ikut mempengaruhi Arsitektur Lanskap Tradisional Minangkabau. simak artikelnya:

TEMPO.CO - Kota Padang menyimpan kenangan sejarah zaman Kolonial Belanda. Kota yang terletak di pesisir pantai barat Sumatera ini sepanjang abad ke-18 dan ke-19 tumbuh menjadi kota dagang, sekaligus kota militer Pemerintahan Hindia Belanda.


Di sepanjang Sungai Batang Arau hingga Pelabuhan Muaro sejumlah bangunan tua jadi saksi bisu jejak kolonial yang tertinggal. Dari Jembatan Siti Nurbaya terlihat jelas sisa-sisa kota tua di Jalan Batang Arau di sisi sungai.

Perpaduan Arsitektur Timur Dan Barat

Perpaduan Timur Dan Barat dalam gaya arsitektur saat ini banyak diminati masyarakat. Didunia arsitektur hal tersebut dan sah-sah saja, karena arsitektur merupakn sebuah seni yang dinikmati dan dirasakan oleh penikmatnya sehingga tidak ada batasan dalam dunia arsitektur. seterti artikel yang dikutib dari okezone.com berikut:

East meet West (Foto: astudioarchitect.wordpress)
Gaya East (Timur) meet West (Barat) sering diaplikasikan di hunian karena dapat mengakomodasi tidak hanya dua gaya desain rumah, juga seni dan budaya yang unik. Tampilan akhirnya, rumah menjadi segar, menawan, dan tak lekang waktu.

Dalam penerapannya, unsur Timur biasanya identik dengan segala sesuatu yang berbau etnik, sedangkan falsafah Barat ditampilkan lewat desain yang cenderung simpel dan modern. Arsitektur rumah modern dapat dihiasi sentuhan etnik pada interiornya. 

Sementara, kesan etnik diwakili oleh pemilihan pernak-pernik atau furnitur bernapaskan tradisional yang dicuplik dari daerah-daerah tertentu. ”Arsitektur dengan konsep East meet West adalah elemen budaya dalam satu desain arsitektur,” ujar arsitek Andry Hermawan.

Menurut dia, yang digunakan dari kultur East kebanyakan dari tampilan arsitektur China dan Jepang. Ornamen yang digunakan pada jendela, pintu, bahkan lampunya menggunakan arsitektur dari China. Adapun unsur West biasanya menggunakan konsep budaya dan seni dari negara-negara di daratan Eropa, seperti Spanyol, Portugis, dan Belanda. 

Saat ini ada juga arsitek dan desainer interior yang menerjemahkan konsep East meet West dengan mengarah pada gaya desain kontemporer. Sebab, aliran ini pada dasarnya adalah juga bagian dari perpaduan antara pengaruh modern dan budaya etnik daerah. Banyak gedung yang dibangun dengan gaya modern dan mengacu pada gaya internasional, yang bagian interiornya mendapat sentuhan seni dari Timur.

Sementara pada rumah tinggal, dewasa ini banyak kita temui arsitektur bergaya Eropa, tapi tetap mengaplikasikan unsur Jawa sebagai aksen pintu, jendela, dan furnitur. Begitu pun sebaliknya. 

Sumber :okezone.com

Arsitektur Lanskap Tradisional Minangkabau


Masyarakat tradisi Minangkabau yang agraris telah lama Mengenal, memanfaatkan, memelihara, mengembangkan dan melestarikan tumbuhan, tanaman dan hewan untuk berbagai keperluan kehidupan. Punya aturan dan cara tersendiri agar tidak saling memusnahkan, sebagai penjabaran dari ajaran adatnya; alam takambang jadi guru. 

Perilaku dan perbuatan harus berpunca kepada alam. Kehidupan manusia dan alam berada dalam keseimbangan dan perimbangan, saling memerlukan dan diperlukan. 

Manusia memerlukan tumbuhan, tanaman dan hewan untuk hidupnya, tanaman dan hewan memerlukan manusia untuk pengembangan dan pemeliharaannya. 

Ketika masyarakat tradisi memasuki era modernisasi, kehidupan yang lebih mengarah pada eskploitasi dan jasa. Tumbuhan, tanaman dan hewan dilihat sebagai sesuatu yang harus dieksploitasi semaksimal mungkin untuk kepentingan manusia. 

Tanpa mempertimbangkan hubungan antara alam dan manusia yang harus saling menjaga, seimbang, berimbang dan memerlukan. 

Fungsi tumbuh-tumbuhan, tanam-tanaman dan hewan menjadi berubah. Tidak lagi sebagai bagian dari alam, tetapi sebagai pelengkap dari kehidupan manusia.Dengan arti kata, konsepsi keseimbangan antara kehidupan manusia dan alam, bergeser menjadi konsepsi penaklukan manusia terhadap alam.

Dari titik penaklukan inilah, mulai timbulnya ketidakseimbangan antara alam dengan manusia. Alam ditaklukkan dengan nafsu dan kerakusan berlebihan. “Alam” memperlihatkan kerusakannya akibat penaklukan itu. 

Hilangnya berbagai species hewan dan tumbuhan yang berguna bagi kehidupan manusia. Munculnya species-species baru yang tidak toleran, menyebabkan manusia harus membuat racun-racun pembunuh yang sekaligus juga membunuh manusia itu sendiri secara perlahan. 

Dalam konteks “ketidakseimbangan” antara manusia dan alam yang kini melanda dan sekaligus mengancam kehidupan, kita perlu menoleh kembali pada pola pelestarian yang telah dilakukan masyarakat secara tradisi. Terutama pada penempatan posisi manusia dan alam. Bagaimana masyarakat tradisi Minangkabau itu dengan kearifan yang dimilikinya menempatkan diri sebagai “manusia” di tengah-tengah “alam” dan menempatkan “alam” dalam kehidupannya.

Pola pelestarian yang dimiliki masyarakat tradisi Minangkabau secara tertulis dapat ditemukan pada berbagai kaba seperti pada kaba Cindua Mato, Anggun Nan Tongga, Sabai Nan Aluih dan lainnya. Walaupun dalam teks kaba itu tidak diuraikan secara jelas dan khusus, namun ada kalimat atau ungkapan yang dapat dijadikan rujukan.Juga pada pantun-pantun atau pepatah-petitih. 

Pola pelestarian tersebut masih dapat dirujuk pada kebiasaan/tradisi yang masih berlaku dan dijalankan oleh kelompok-kelompok masyarakat tradisi pada berbagai negeri di Minangkabau.

Terutama dalam upacara-upacara mendirikan rumah gadang, menaiki rumah gadang, adat perkawinan dan penobatan penghulu. Pola pelestarian ini dapat juga ditemukan dalam rencana tatanan tanaman pekarangan Istana Basa Pagaruyung yang terbakar karena petir dan sekarang sedang dibangun kembali. Walaupun susunan tanaman pekarangan itu masih memerlukan kesempurnaan, namun dapat membantu, sebagai pembanding dari teks yang ditemukan dalam berbagai cerita rakyat.

Istano Silinduang Bulan
Teks lain sebagai pembanding adalah buku panduan dari Istano Si Linduang Bulan Pagaruyung yang dibakar orang dan sekarang sedang dibangun kembali, terutama menyangkut nama-nama ukiran yang terdapat di rumah gadang tersebut.

Sebelum kita membicarakan lebih lanjut tentang arsitektur lanskap Minangkabau, ada baiknya kita tinjau keberadaan Rumah Gadang sebagai salah satu bentuk budaya Minangkabau dalam arsitektur.

Arti dan Fungsi Rumah Gadang

Rumah Gadang
Rumah Gadang adalah sebuah bangunan tempat tinggal, mempunyai banyak kamar, ruang tengah yang luas dengan bentuk bangunannya yang khas. Selain tempat tinggal, rumah gadang juga dijadikan sebagai tempat melakukan berbagai aktivitas dan upacara-upacara adat seperti; upacara perkawinan, kematian dan menobatkan/mendirikan penghulu. Oleh karena rumah gadang juga sering pula disebut rumah adat.

Rumah gadang tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal dan tempat untuk upacara-upacara adat. Rumah Gadang adalah pusat informasi suatu kaum/suku terhadap keberadaan setiap anggotanya. Dari rumah gadang itu mereka mengetahui, mengenal dan mengontrol setiap tindakan dan perilaku anggota kaum. Rumah gadang juga merupakan alamat yang jelas dari seseorang, tempat pulang/kembali.

Rumah gadang adalah tanda dari status seseorang. Menurut ajaran adatnya, seseorang dapat dikatakan orang Minang apabila orang itu mempunyai rumah gadang. Oleh karena begitu pentingnya, rumah gadang mendapat perlakuan istimewa. Selalu dipertahankan setiap anggota kaumnya; dijaga status, wibawa dan fungsinya.

Bila rumah gadang tidak mendapat perawatan yang baik, mungkin karena tidak ada dana untuk perbaikannya, kaum itu dibolehkan menggadaikan tanah pusaka. Rumah gadang tidak dapat dimiliki secara pribadi, tetapi harus atas nama kaumnya.

Sumber: padangekspres.co.id (Puti Reno Raudha Thaib, Ketua Umum Bundo Kanduang, Sumatera Barat)


Arsitek AS Paling Banyak Nganggur

Tulisan ini dikutip seutuhnya dari situs kampus.okezone.com, bukan bermaksud apa-apa, cuma rada miris membaca hasil penelitian yang dilakukan, bahwa tingkat pengguran tertinggi di Amerika berasal dari lulusan jurusan arsitektur, artinnya arsitek AS banyak yang nganggur. . Baca saja artikelnya:google9c09980c12e5753d.html

WASHINGTON - Laporan sebuah penelitian di Amerika Serikat menyebutkan, arsitektur merupakan jurusan dengan tingkat pengengguran tertinggi di negara tersebut. 

Arsitektur menempati porsi sekira 13,9 persen dalam data tingkat pengangguran. Data ini merupakan hasil penelitian terbaru yang dirilis oleh Pusat Pendidikan dan Tenaga Kerja Georgetown University di Amerika Serikat.

Secara umum, laporan ini menyebutkan bahwa jumlah pengangguran tertinggi adalah lulusan jurusan non-teknik, seperti arts (seni dan arsitektur) sebesar 11,1 persen, serta humaniora dan liberal arts (9,4 persen).

Humaniora mencakup jurusan ilmu sosial seperti komunikasi, hukum, dan sastra. Sementara liberal arts mencakup sejarah, ilmu politik, dan psikologi. Untuk lulusan kesehatan atau pendidikan, tingkat penganggurannya hanya 5,4 persen.

“Jika jurusan Anda terdengar seperti profesi, misalnya jurusan teknik di mana Anda akan menjadi teknisi, maka Anda akan berada dalam bentuk yang baik,” kata Direktur Pusat penelitian, Anthony P Carnevale seperti dikutip dari Chronicle, Kamis (5/1/2012).

Secara umum, para insinyur memang memiliki prospek kerja yang baik, namun khusus untuk lulusan teknik sipil dan mesin, angka penganggurannya tetap tinggi.

Namun laporan ini memperingatkan, tidak selamanya jurusan dengan pengangguran rendah meraup pendapatan dengan jumlah yang tinggi. Disebutkan bahwa jurusan ilmu kesehatan, science, dan bisnis, angka penganggurannya relatif lebih rendah dan pendapatannya tinggi. Tapi untuk lulusan pendidikan, psikologi, dan kerja sosial, walau angka penganggurannya rendah, penghasilannya tidak tinggi.

Survei ini dilakukan kepada mahasiswa perguruan tinggi di Amerika yang lulus pada 2011 dengan rentang usia 22 hingga 26 tahun. Laporan disusun berdasarkan data dari Biro Sensus Amerika, yang fokus pada pendapatan yang dihasilkan jurusan kuliah dan pekerjaan.

Terlepas dari jurusan yang dipilih, Carnevale meyakini, gelar dari perguruan tinggi masih menjadi penentu mendapatkan pekerjaan.

"Secara keseluruhan, tingkat pengangguran untuk pemilik gelar sarjana adalah 8,9 persen. Sementara angka pengangguran lulusan sekolah menengah atas (SMA) sebesar 22,9 persen dan lulusan SMA yang putus sekolah angka penganggurannya sebesar 31,5 persen," ujarnya menandaskan.

Arsitektur Tradisional Banjar

Rumah Baanjung
Rumah tradisional suku Banjar yang disebut Rumah Banjar (Rumah baanjung). Bangunan merupakan salah satu Arsitektur tradisional Indonesia, dan memiliki ciri-cirinya diantaranya memiliki perlambang, penekanan pada atap, ornamental, dekoratif dan simetris.

Pada umumnya, rumah tradisional Banjar dibangun beranjung yaitu sayap bangunan yang menjorok dari samping kanan dan kiri bangunan utama karena itu disebut Rumah Baanjung. Anjung merupakan ciri khas rumah tradisional Banjar, namun demikian beberapa type Rumah Banjar tidak menerapkannya.

Rumah Bubungan Tinggi
Tipe rumah yang paling bernilai tinggi adalah Rumah Bubungan Tinggi yang biasanya dipakai untuk bangunan keraton (Dalam Sultan) sama halnya dengan joglo di Jawa. Keagungan seorang penguasa pada masa pemerintahan kerajaan diukur oleh kuantitas ukuran dan kualitas seni serta kemegahan bangunan-bangunan kerajaan khususnya istana raja (Rumah Bubungan Tinggi).

Pada perkampungan suku Banjar terdiri dari bermacam-macam jenis rumah Banjar yang mencerminkan status sosial maupun status ekonomi sang pemilik rumah. Rumah di perkampungan itu dibangun dengan pola linier mengikuti arah aliran sungai maupun jalan raya terdiri dari rumah yang dibangun mengapung di atas air, rumah yang didirikan di atas sungai maupun rumah yang didirikan di daratan, baik pada lahan basah (alluvial) maupun lahan kering. Rumah Banjar terdiri Rumah Banjar masa kesultanan banjar dan Rumah Banjar masa kolonial.

Pondasi sebagai konstruksi paling dasar, biasanya menggunakan kayu Kapur Naga atau kayu Galam. Tiang dan tongkat menggunakan kayu ulin, dengan jumlah mencapai 60 batang untuk tiang dan 120 batang untuk tongkat.Keadaan alam yang berawa-rawa di tepi sungai sebagai tempat awal tumbuhnya rumah tradisional Banjar, menghendaki bangunan dengan lantai yang tinggi sehingga pondasi, tiang dan tongkat dalam hal ini sangat berperan. 

Kerangka rumah ini biasanya menggunakan ukuran tradisional depa atau tapak kaki dengan ukuran ganjil yang dipercayai punya nilai magis/sakral. Bagian-bagian rangka tersebut adalah :
  • Susuk dibuat dari bahan kayu Ulin.
  • Gelagar  dibuat dari bahan  kayu Ulin, Belangiran, Damar Putih.
  • Lantai  dibuat dari bahan  papan Ulin setebal 3 cm.
  • Turus Tawing  dibuat dari bahan  kayu Damar.
  • Watun Barasuk  dibuat dari bahan  balokan Ulin. 
  • Rangka pintu dan jendela  dibuat dari bahan  papan dan balokan Ulin.
  • Bujuran Sampiran dan Gorden dibuat dari balokan Ulin atau Damar Putih. 
  • Balabad  dibuat dari bahan balokan kayu Damar Putih.
  • Titian Tikus dibuat dari balokan kayu Damar Putih.
  • Riing  dibuat dari bahan  bilah-bilah kayu Damar putih.
  • Tiang Orong Orong dan Sangga Ributnya serta Tulang Bubungan  dibuat dari bahan  balokan kayu Ulin, kayu Lanan, dan Damar Putih.
  • Kasau  dibuat dari bahan  balokan Ulin atau Damar Putih.
Bagian lantai biasanya menggunakan adalah papan ulin selebar 10 sampai 20 cm, di samping lantai biasa, terdapat pula lantai yang disebut dengan Lantai Jarang atau Lantai Ranggang

Dindingnya terdiri dari papan yang dipasang dengan posisi berdiri, sehingga di samping tiang juga diperlukan Turus Tawing dan Balabad untuk menempelkannya. Bahannya dari papan Ulin sebagai dinding muka. Pada bagian samping dan belakang serta dinding Tawing Halat menggunakan kayu Ulin atau Lanan. Pada bagian Anjung Kiwa, Anjung Kanan, Anjung Jurai dan Ruang Padu, kadang-kadang dindingnya menggunakan Palupuh.

Atap bangunan biasanya menjadi ciri yang paling menonjol dari suatu bangunan. Karena itu bangunan ini disebut Rumah Bubungan Tinggi. Bahan atapnya terbuat dari sirap dengan bahan kayu Ulin atau atap rumbia.

Ornamentasi berupa ukiran, Penempatan ukiran tersebut biasanya terdapat pada bagian yang konstruktif seperti tiang, tataban, pilis, dan tangga. Motif ukiran yang diterapkan merupakan pengaruh dari perkembangan peradaban Islam seperti yang digambarkan pada motif flora (daun dan bunga), motif binatang seperti pada ujung pilis yang menggambarkan burung enggang dan naga juga distilir dengan motif flora serta moti ukiran bentuk kaligrafi.

Rumah Larik Sebagai Arsitektur Rumah Tradisional Kerinci

Umoh panja/laheik/larik
Rumah tradisional Kerinci, yakni umoh laheik atau umoh panja,yang merupakan salah satu arsitektur tradisional dari Kerinci, kini semakin langka, bahkan bisa dikatakan telah punah dan digantikan oleh rumah-rumah dengan bangunan beton yang permanen. Penyebanya, telah berubahnya pola pikir dan gaya hidup masyarakat menjadi lebih modernis, individualis, dan praktis seperti sekarang, juga karena semakin meningkatnya perekonomian dan kesejahteraan masyarakat.

Konsep landscape, Rumah larik dapat dibagi berdasarkan konsep ruang makro, meso, dan mikro. Ruang makro terdiri dari ruang hutan, ruang pertanian, dan ruang pemukiman.

Hutan yang berada di daerah perbukitan dengan kemiringan yang cukup curam tidak diizinkan untuk dimanfaatkan oleh manusia karena berfungsi sebagai daerah resapan dan sumber air bagi pertanian dan pemukiman. 

Ruang pertanian terdiri dari ladang (tanah kering) dan sawah (tanah basah) terdapat di kaki–kaki bukit yang berfungsi sebagai lahan untuk bercocok tanam bagi masyarakat dan sebagai lahan cadangan untuk mendirikan pemukiman baru. Sawah atau tanah basah merupakan tanah adat yang berstatus hak milik pribadi sesuai dengan pembagian yang telah diatur oleh Ninik Mamak

Ruang pemukiman berada dalam area yang disebut tanah “parit sudut empat” yang merupakan batas pemukiman tradisional masyarakat adat dengan pemukiman di luarnya. Status tanah dan rumah dalam parit sudut empat ini berstatus hak milik kaum yaitu milik anak batino dan tidak boleh diperjual belikan.

Pola Rumah larik berjejer memanjang dari arah Timur ke Barat sambung menyambung antara satu rumah dengan rumah di sebelahnya hingga membentuk sebuah larik. Rumah Larik Limo Luhah merupakan salah satu kawasan Rumah Larik yang terdapat dalam wilayah adat Depati Nan Bertujuh Sungai Penuh selain kawasan Rumah Larik Pondok Tinggi dan Dusun Baru.
Rumah ini menerapkan konsep sumbu vertikal (nilai ketuhanan) dan sumbu horisontal (nilai kemanusiaan). Sumbu vertikal terlihat dari pembagian ruang menjadi tiga bagian, yaitu bagian bawah sebagai kandang ternak, bagian tengah untuk tempat manusia tinggal, dan bagian atas untuk menyimpan benda-benda pusaka. Sedangkan sumbu horisontal dapat dilihat dari pembagian ruang dalam rumah yang tidak bersekat dan saling menyatu antara satu rumah dengan rumah di sebelahnya, hal ini mengandung nilai kemanusiaan yang tinggi. Pekarangan rumah pada umumnya dimanfaatkan untuk kegiatan menjemur hasil pertanian seperti padi. kopi, dan kayu manis.

Umoh laheik, dibangun sambung-menyambung satu dengan yang lainnya sehingga menyerupai gerbong kereta yang sangat panjang, sepanjang larik atau lorong desa, dibangun di sisi kiri dan kanan sepanjang jalan.


Konstruksinya tanpa menggunakan fondasi permanen, hanya tumpukan batu alam tempat tiang ditenggerkan, juga tanpa menggunakan paku, hanya mengandalkan pasak dan ikatan tambang ijuk. Atapnya pada masa awalnya bukan seng atau genteng seperti masa sekarang, melainkan hanya jalinan ijuk. 

Dindingnya dulu adalah pelupuh (bambu yang disamak) atau kelukup (sejenis kulit kayu) dan lantainya papan yang di-tarah dengan beliung. Material-material itu tidaklah memberatkan rumah.

Umoh laheik ini merupakan tempat tinggal tumbi (keluarga besar), dengan sistem sikat atau sekat-sekat seperti rumah bedeng. Setiap keluarga menempati satu “sikat” yang terdiri dari kamar, ruang depan, ruang belakang, selasar, dan dapur.

Setiap sikat memiliki dua pintu dan dua jendela, yakni bagian depan dan belakang. Material pintu adalah papan tebal di tarah beliung. Antara sekat sikat terdapat pintu kecil sebagai penghubung.

Jendela yang disebut “singap” sekaligus merupakan ventilasi angin dibuat tidak terlalu lebar, tanpa penutup seperti layaknya rumah modern saat sekarang, hanya dibatasi jeruji berukir. 

Sementara bagian bawah yang disebut “umin” sering hanya sebagai gudang tempat menyimpan perkakas pertanian, seperti imbeh, jangki, dan jala, atau terkadang juga menjadi kandang ternak seperti ayam, bebek, kelinci, kambing, dan domba. Tak jarang juga dibiarkan kosong melompong menjadi arena tempat bermain anak-anak.

Di bagian atas loteng terdapat bumbungan yang disebut “parra”. Atap di dekat parra itu biasanya dibuat lagi singap kecil yang bisa buka-tutup, yang disebut “hintu ahai” atau pintu hari atau pintu matahari. Di situlah keluarga bersangkutan sering menyimpan “sko” (benda-benda pusaka) keluarga

Di luar rumah, tepatnya di depan pintu, biasanya terdapat beranda panggung kecil yang disebut “pelasa”, yang langsung terhubung dengan jenjang atau tangga. Di situ pemilik rumah sering berangin-angin sepulang kerja. Bahkan, tak jarang para tamu pria sering dijamu duduk di atas bangku sambil minum sebuk kawo dan mengisap rokok lintingan daun enau.

Bagian halaman depan rumah sering dipenuhi oleh tumpukan batu sungai sebagai teras sehingga rumah terkesan tidak berpekarangan. Pekarangan rumah keluarga tersebut sebenarnya berada di halaman belakang yang biasanya sangat luas dan panjang.

Rumah adat Kerinci
Model dan konstruksi arsitektur rumah tradisional Kerinci mencerminkan betapa masyarakat sangat mengutamakan semangat kekerabatan, kebersamaan, dan kegotongroyongan dalam kehidupannya sebagai falsafah pegangan hidup manusia sebagai makhluk sosial.

Arsitektur Tradisional Kerinci

Arsitektur tradisional Kerinci merupakan salah satu identitas dan dapat memberikan gambaran tentang tingkat kehidupan masyarakat kerinci pada waktu itu. Pada arsitektur tradisoinal Kerinci, terkandung secara terpadu wujud ideal, wujud sosial, dan wujud material dari suatu kebudayaan.

Mesjid Agung Pondok Tinggi
Dalam arsitektur tradisional Kerinci benyak sekali nilai-nilai budaya yang terkandung didalamnya. Salah satu contohnya dapat dilihat pada bentuk arsitektur bangunan Mesjid Agung Pondok Tinggi yang dapat memberikan gambaran, betapa tinggi daya cipta dan kreasi masyarakat Kerinci pada waktu itu. Dengan menggunakan bahan yang terbatas, serta peralatan yang sederhana dapat menghasilkan dan membangun bangunan yang agung dan megah pada zamannya.

Selain pengetahuan mengenai konstruksi bangunan, teknik dan cara pembuatan serta karya seni yang dimiliki masyarakat Kerinci, sifat masyarakat yang bergotong royong merupakan beberapa faktor jyang menunjang masyarakat Kerinci dalam mambengun sebuah Bangunan.

Umoh panja/laheik/larik
Tipe rumah tinggal mayarakat kerinci, salah satu contohnya adalah rumah panjang atau yang disebut juga "umoh panja" atau "umoh larik" atau "umoh laheik", yang merupakan bangunan panjang berbentuk panggung yang terdiri dari beberapa deretan rumah petak yang saling sambung menyambung yang berfungsi sebagai rumah tinggal.

Bangunan ini disebut larik karena susunannya yang berlarik atau berderet-deret. Larik ini dihuni oleh beberapa keluarga yang disebut “tumbi” atau “perut” yang terdiri dari satu keturunan, yang dalam bahasa daerahnya disebut Kalbu. Setiap kalbu dipimpin oleh seorang ninik mamak.

Tipologi rumah panjang atau larik adalah empat persegi panjang dan berbentuk panggung, tidak ada ketentuan khusus mengenai ukurannya karena tergantung dari banyaknya keluarga yang menghuninya. Setiap keluarga atau tumbi mendiami satu petak, yang terdiri dari bapak, ibu dan anak yang belum menikah. Ukuran tiap petak bangunan pada umumnya panjang 5 depa dan lebarnya depa (8 meter x 6 meter)
Pada zaman sekarang, dengan adanya kemajuan teknologi mengakibatkan adanya pergeseran nilai-nilai budaya yang terkandung dalam arsitektur tradisional Kerinci, terutama pada bentuk, teknik dan cara pembuatannya, serta bahan-bahan dan elemen-eleman yang digunakan.

Selain pengaruh perkembangan teknologi, pengaruh perkembangan ekonomi juga sangat besar artinya dalam pergeseran nilai-nilai budaya yang terkandung dalam arsitektur tradisional Kerinci. Bukan hanya bentuk, struktur, dan fungsi bangunan yang bergeser, tetapi system kemasyarakatan juga ikut bergeser. System gotong royong yang menjadi kekuatan masyarakat lambat laun juga akan menghilang.

Pada dasarnya arsitektur tradisional kerinci sekarang telah banyak mengalami peruahan, baik dari segi bentuk, struktur da fungsinya. Pengaruh luar tidak dapat dihindari sebagai akibat dari perkembangan dan perubahan lingkungan sekitarnya.

Konsep Ruang Arsitektur Jepang


Konsep ruang Jepang pada arsitektur Jepang didesain bersifat fleksibel, tidak ada pemisah ruang yang bersifat permanen. Dinding dipisahkan oleh pemisah ruang transparan untuk menunjukan bahwa tidak ada batasan yang jelas antara desain eksterior dan interior. Jika ada beberapa ruang yang tidak bersifat fleksibel berarti raung tersebut sudah disesuaikan dengan fungsi masing-masing ruang.

Pola Grid digunakan pada perencanaan denah rumah tinggal. Pola ini merupakan komponen utama pada perancangan rumah tinggal Jepang yang saling berhubungan.

Pola Grid dimensi ruang
Ukuran standar per-grid kurang lebih 3 feet x 3 feet (1 Feet/kaki = 27,5 cm) dan dimensi standar ruang :
  • Tatami (1 tikar) = 3 kaki x 6 kaki.
  • Alcove (tokonoma) = 3 kaki sampai 6 kaki.
  • Lemari dinding = 3 kaki x 6 kaki.
  • Bath = 6 kaki x 6 kaki.
  • Toilet = 3 kaki x 4½ atau 6 kaki 9lebar).
  • Teras = 3 , 4 ½ atau 6 kaki (lebar).
  • Koridor = 3 atau 4 ½ kaki (lebar).
  • Fusuma = 3 kaki x 6 kaki.
  • Shoji = 3 kaki x 6 kaki.


Ruang dibuat tidak terlalu tinggi karena kondisi iklim di Jepang (4 musim). Ruang pada rumah tinggal Jepang dibuat dengan ketinggian 7 kaki sampai 8 kaki. Pada ruang minum teh ketinggian ruangan dibuat antara 6 sampai 7 kaki. (1 kaki = 27,5 cm).



hall "Genkan"
Entrance hall "Genkan" yang merupakan salah satu ciri dari arsitektur Jepang dan merupakan kebudayaan Jepang, mempunyai ukuran min 10-15 tsubo ( 33-50 sq.m = 356-534 sq.ft). Dapat dikembangkan 10% dari keseluruhan luas lantai. Lantai terbuat dari beton/batu kerikil yang dicampur semen. Ketinggian entrance hall biasanya 1-2 papan kayu dengan maksud untuk membedakan entrance hall dengan ruang keluarga. Biasanya terdapat tempat penyimpanan sepatu yang diletakkan di samping entrance hall.

Ruang Penerima “Zashiki” dan Ruang Tamu “Kyakuma”, Mempunyai ukuran 8 tikar tatami yang didalamnya terdapat alcove (tokonoma) dan rak-rak ornamen. Pada rumah tinggal yang lebih besar runag penerima berubah fungsi menjadi ruang lain dan keduanya dibatasi oleh fusuma.

Ruang Keluarga “Tsugi-No-Ma” Mempunyai fungsi fleksibel (dapat berubah fungsi menjadi ruang makan pada siang hari, ruang tidur anak-anak, dan ruang tidur orang tua (pada malam hari).


Ruang Makan “Shokudo” dan Ruang Masak “Chanoma” berfungsi sebagai tempat makan seluruh anggota keluarga dan tempat minum teh.

Ruang Minum Teh “Chashitsu” , yang berfungsi untuk melakukan upacara minum teh. Ruang ini merupakan ruangan yang bersifat sakral sesuai dengan kepercayaan masyarakat Jepang. Ukuran standar ruang minum teh : 4½ tikar tatami  atau ± 3 kaki x 6 kaki (91,44 x 182,82 cm) dengan tinggi ruang 6 kaki. Ukuran pintu ruang minum teh, tinggi 28 inci = 70 cm dan lebar 24 inci = 60 cm, Pintu yang kecil merupakan simbol keseimbangan dan perdamaian.

Untuk Kamar mandi di Jepang, pada umumnya, didesain dan digunakan secara bersama-sama untuk seluruh anggota keluarga.

Filosofi Arsitektur Jepang

A Compass Rose
Menurut kepercayaan Jepang, arah mata angin mempunyai peran yang penting dalam perencanaan bangunan khususnya ruang dalam dengan menggunakan A Compass Rose. Panduan A Compass Rose ini menentukan sisi baik dan sisi buruk dalam penempatan ruang.
  • Pintu masuk diusahakan berada di Selatan disesuaikan dengan A Compass Rose sebagai kebudayaan dan sistem kepercayaan di Jepang.
  • Arah Selatan pada A Compass Rose memiliki filosofi yang artinya adalah “kedatangan” (ri), sehingga letak entrance khususnya pada bangunan umum, bangunan ritual dan banguanan pemerintahan berada pada bagian selatan.
  • Kamar mandi tidak ditempatkan di bagian Timur Laut karena menurut kepercayaan Jepang (kebudayaan) dapat menimbulkan penyakit.
  • Taman dibuat di bagian Timur Laut yang diyakini sebagai penangkal setan dan dapat diyakini membawa keberuntungan bagi anggota keluarga.
  • Perletakan taman tidak boleh berada di arah Barat Daya karena membawa dampak yang buruk yaitu kemiskinan.
  • Ruang minum teh “Chashitsu” pada arsitektur Jepang tradisional berbeda dengan arsiterktur Jepang modern, di sini ruang minum teh letaknya tidak diharuskan pada sisi/ samping bangunan.
  • Perluasan bangunan dapat dilakukan kecuali ke arah Timur Laut karena menurut kepercayaan Jepang apabila perluasan dilakukan pada arah tersebut dapat menimbulkan ketidakharmonisan dalam rumah tangga.

Jenis Taman Jepang

Taman dalam bahasa Jepang disebut sebagai “Niwa Sono.” Kata-kata ini merupakan konsep utama taman Jepang yang menciptakan keselarasan antara alam dan keindahan buatan manusia. “Niwa” berarti alam bebas dan “Sono” berarti lahan yang dipagari. Taman Jepang, dari segi desain memang sangat mementingkan kualitas spiritual, estetika dan pengalaman intelektual bagi yang menikmatinya.

Taman memiliki makna yang sangat penting bagi orang Jepang, karena merupakan representasi dari alam sekitar. Dalam perkembangannya taman Jepang dipengaruhi oleh filosofi Shinto, Budha dan Tao. Semua filosofi ini menghadirkan nuansa spiritualitas yang kental dalam taman Jepang. Di jaman dahulu, taman Jepang sering digunakan sebagai tempat untuk bermeditasi.

Di era tahun 90-an, taman Jepang sempat populer dengan hamparan rumput Jepang, bonsai cemara udang dan aksen batu alam. Padahal gaya itu merupakan adopsi dan bukan gaya sesungguhnya dari taman Jepang.
Secara umum, tipe taman Jepang memiliki ciri khas dan keunikan tersendiri, seperti : Taman air/taman danau, Taman alami/taman natural, Taman batu dan pasir, Taman teh, Taman datar.


Taman air/taman danau
Taman ini biasanya memiliki ukuran paling besar dibandingkan tipe lainnya, sehingga sudut pandang menarik (focal point) yang dimilikinya menjadi banyak. Komponen penyusunnya pun paling beragam di antara taman-taman yang lain. Taman ini umumnya memiliki kolam plus aliran air atau air terjun. Biasanya di atas kolam terdapat jembatan yang disebut dengan “Jembatan Bulan.” Patung yang terdapat di taman ini ada dua. Yang pertama berbentuk kura-kura yang melambangkan usia panjang dan yang kedua adalah angsa yang melambangkan kesehatan prima. Taman ini umumnya memiliki warna-warni bunga yang lebih beragam.

Taman alami/taman natural 
Disebut natural, karena taman ini dirancang sedemikian rupa, sehingga burung-burung dan hewan pengerat (kelinci, marmut) bisa tinggal di dalamnya. Taman ini didominasi oleh hijaunya lumut dan nilainya menjadi sempurna bila terdapat kolam atau aliran air yang asli (bukan buatan). Taman jenis ini umumnya memiliki bangunan kecil semacam gazebo yang dinamai “Azumaya”. Konsep taman ini secara keseluruhan adalah menyatu dan menjadi bagian dari alam sekitarnya.

Taman batu dan pasir 
Taman jenis ini berkembang pada era Muromachi dan menggambarkan filosofi Zen. Di masa ini taman umumnya dipakai oleh para pendeta Zen untuk bermeditasi. Taman jenis ini umumnya bersifat tertutup karena dikelilingi oleh dinding dekoratif yang indah. Dan sesuai namanya, komponen utama dari taman ini adalah pasir dan batu.

Bidang-bidang yang dibentuk oleh pasir putih umumnya bersegi teratur dan pasirnya pun tertata dengan rapi. Menurut tradisi jumlah batu yang harus diletakkan di taman ini sebanyak 15 buah yang diatur dalam kelompok dua, tiga, dan lima. Sebagai aksen, pada masing-masing kelompok batu biasanya ditumbuhi lumut.

Pasir memberikan kesan ruang dan kehampaan. Filosofinya adalah, pengujung taman diharapkan membersihkan pikiran yang dipenuhi hal-hal duniawi dan dapat melakukan meditasi dengan baik di dalam taman. Ada juga yang mengatakan bahwa pasir mewakili air (danau atau lautan) dan batu mewakili pulau-pulau Jepang.

Taman teh 
Taman ini berkaitan dengan upacara kebanggan orang Jepang yaitu minum teh. Taman Teh terdiri atas dua bagian, Taman Dalam dan Taman Luar. Selain itu juga terdapat rumah tempat upacara minum teh berlangsung. Semua yang berada di dalam taman ini mulai dari batu, lentera batu dan tempat air memiliki korelasi dan merupakan sebuah kesatuan simbolik.

Taman Dalam adalah taman yang bersifat privat dan hanya dinikmati dari Rumah Teh. Sementara Taman Luar digunakan untuk tempat tunggu bagi tamu. Biasanya Taman Luar dilengkapi dengan tempat duduk yang terbuat dari kayu. Taman ini juga dilengkapi dengan pemanas yang digunakan di musim dingin. Sebagai simbol penyucian diri sebelum memasuki Rumah Teh, disediakan wadah air untuk tempat tamu membasuh diri.

Taman datar 
Taman ini merupakan perpaduan antara Taman Natural dan Taman Pasir Batu. Elemen utama taman ini adalah hamparan pasir putih yang berbentuk melingkar. Bentuk ini menyimbolkan kecerahan dan kegembiraan. Batu-batu yang tersusun di dalamnya juga memiliki makna khusus. Pengunjung taman bisa mengintrepetasikan sesuka mereka bentuk susunan batu yang ada di dalam taman. Komponen penyusun taman ini adalah pasir, tanaman evergreen (biasanya jenis cemara), lumut, tanaman bunga dan rumput.

Tulisan ini diambil dari Tabloit Rumah.Com silahkan kunjungi situs ini bagi yang membutuhkan informasi lainnya. 

Taman Jepang

Taman dalam bahasa Jepang disebut sebagai “Niwa Sono.”  “Niwa” berarti alam bebas dan “Sono” berarti lahan yang dipagari. Kata-kata ini merupakan konsep utama taman Jepang yang menciptakan keselarasan antara alam dan keindahan buatan manusia. Taman Jepang, dari segi desain memang sangat mementingkan kualitas spiritual, estetika dan pengalaman intelektual bagi yang menikmatinya.



Prinsip dasar taman Jepang adalah miniaturisasi dari lanskap atau pemandangan alam empat musim di Jepang. Elemen dasar seperti batu-batu dan kolam dipakai untuk melambangkan lanskap alam berukuran besar.

Taman memiliki makna yang sangat penting bagi orang Jepang, karena merupakan representasi dari alam sekitar. Dalam perkembangannya taman Jepang dipengaruhi oleh filosofi Shinto, Budha dan Tao. Semua filosofi ini menghadirkan nuansa spiritualitas yang kental dalam taman Jepang. Di jaman dahulu, taman Jepang sering digunakan sebagai tempat untuk bermeditasi.

Filosofi Taman Jepang

Taman Jepang di desain menurut arah mata angin adalah sumbu Timur Laut- Barat Daya “ gate of demon “ dan “ gate of man “ merupakan sesuatu yang bertolak belakang sehingga harus diberikan perhatian lebih, seperti kebun pada arah Timur Laut merupakan tempat untuk menangkal setan dan menjamin keberuntungan, sedangkan pada arah Barat Daya tidak memberikan apa-apa kecuali kemiskinan bagi semua anggota keluarga.

Taman memiliki makna yang sangat penting bagi orang Jepang, karena merupakan representasi dari alam sekitar. Dalam perkembangannya taman Jepang dipengaruhi oleh filosofi Shinto, Budha dan Tao. Semua filosofi ini menghadirkan nuansa spiritualitas yang kental dalam taman Jepang. Di jaman dahulu, taman Jepang sering digunakan sebagai tempat untuk bermeditasi.

Tema "Menghadirkan tanaman di antara ruang" banyak dipakai di Jepang. Taman ini disebut Tsubo-niwa. Keberdaannya bisa memberi nuansa luar ruangan dengan masuknya sinar matahari dan udara segar. Tanaman kecil menghiasi bebatuan berkombinasi lentera batu membentuk sebuah pemandangan alami.


Bisa juga ditemukan taman berisi hanya 2-3 pohon contohnya taman kering ( karesansui), yang mengandung filosofi ditampilkan hamparan pasir digambarkan sebagai laut,serta batu dianggap pulau. Selain itu kolam dan batu- batu kecil dijadikan laut dan pulau serta gundukan tanah untuk miniatur gunung.

Elemen Taman Jepang

Walaupun teknologi bertambah maju, lahan berkurang, tapi rumah-rumah modern Jepang selalu menempatkan taman walaupun kecil atau hanya berupa taman kering (karresansui) maupun tanaman – tanaman kecil dalam pot (bonsai) sebagai suatu tradisi dan budaya yang tetap dipertahankan termasuk filosofi-filosofi pada setiap elemen tamannya. 

Tanaman yang digunakan berukuran kecil, pendek dan ramping dan berisikan 2-3 pohon. Ukuran taman Jepang lebih kecil disebabkan oleh perkembangan penduduk sehingga lahan lebih terbatas.

Batuan,air, pasir dan pepohonan merupakan unsur atau materi yang sangat penting dalam taman Jepang. Hal ini disebabkan karena unsur-unsur tersebut memiliki vilisofis dan karakter yang berlainan. Warna yang alamipun ternyata sangat menentukan (hitamnya batu, putihnya pasir, hijaunya pepohinan dan sebagainya) merupakan sesuatu yang penting dalam membuat komposisi yang baik.

Konsep Taman Jepang

Fungsi utama taman Jepang adalah untuk memuaskan kebutuhan psikologis manusia akan keindahan dan untuk memperkaya hidup yang menyatakan misteri akan alam. Bagi Jepang kehidupan alam dan seluruh komponen seperti batu, tanaman, dan air memiliki jiwa sama halnya dengan manusia. Masing-masing elemen membutuhkan perhatian dan kehadiran masing-masing elemen sangat penting. 

Desain taman modern menuntut lebih banyak kebebasan dan mereka merubah sebagai hasrat dari desain tradisi Karesansui / taman batu dan kerikil.golongan desainer modern menggunakan retakan pecahan dan batu yang tidak pernah digunakan di tradisional. Tidak hanya abstraksi dan kegunaan material baru, tapi keluasan karakter skala akan tamn Jepang, taman untuk jalan-jalan, taman dengan kolam dan air terjun, dan taman batu dan kerikil masih dibuat sampai sekarang.

Shoji

Shoji (arti harfiah: penyekat ruang), Pada arsitektur Jepang, Shoji adalah panel dari rangka kayu berlapis kertas transparan. Kertas pelapis dapat berupa washi atau kertas bercampur serat sintetis. Dalam arsitektur tradisional Jepang, shoji berfungsi sebagai pintu dorong, atau ketika dipasang permanen sebagai jendela atau partisi. Shoji yang dikenal sekarang ini, dulunya disebut akarishoji karena dalam keadaan tertutup, shoji masih tembus cahaya.

Akhir abad ke-12 hingga awal abad ke-13, orang mulai membuat partisi yang hanya ditempel kertas atau sutra pada salah satu sisinya, dan dikenal hingga sekarang sebagai akarishoji. Partisi seperti ini cukup untuk menjaga privasi orang yang berada di dalam dan melindungi ruangan dari pengaruh udara luar.

Shoji membuat ruangan jadi terang karena sinar matahari dapat menembus shoji dan juga dapat menyerap kelembapan dan insulator terhadap panas dan dingin.

Bila kertas pelapis rusak, kertas lama bisa dilepas dan diganti dengan kertas baru. Ketika tidak diperlukan, shoji bisa dilepas dengan mudah karena ringan. Luas ruangan yang disekat dengan shoji bisa diubah-ubah sesuai keperluan. 

Jika shoji difungsi sebagai pintu dorong, shoji dipasang di antara rel kayu; rel bagian atas disebut kamoi dan rel bagian bawah disebut shikii. 

Saat ini pemakaian shoji mulai berkurang, hal ini karena adanya kaca dan tirai, terutama setelah dibuat shoji yang memakai kaca. 

Berdasarkan fungsinya, shoji juga diberi nama seperti: yukimi shoji yang sebagian dibuat dari kaca agar untuk melihat keadaan salju di luar.

Feed